Friday, 31 October 2014 - Buka setiap hari jam 08.00 s/d jam 20.00
Home » Sejarah Paskibra

Paskibraka kepanjangan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang bertugas mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di 3 tempat, yakni :
1.Nasional (Istana Negara).
2.Provinsi (Kantor Gubernur),
3.tingkat Kabupaten/Kota (Kantor Bupati/Walikota),

Dalam pelaksanaannya biasanya para anggota direkrut dengan seleksi yang cukup ketat dari siswa – siswi pelajar SLTA Sederajat. Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus

Lambang
Lambang dari organisasi paskibraka adalah bunga teratai
Tiga helai daun yang tumbuh ke atas artinya paskibra harus belajar, bekerja, dan berbakti
Tiga helai daun yang tumbuh mendatar/samping: artinya seorang pakibra harus aktif, disiplin, dan bergembira. Untuk penjelasan singkat lambing paskibra klik disini

Sejarah
Ide tercetusnya Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada pada waktu ibukota negara dipindahkan ke Yogyakarta., yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Negara Indonesia / Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk mempersiapka pasukan pengibar benera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.

Hanya sayang sekali gagasan yang baik tersebut tidak mudah untuk direalisasikan, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebertulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soekarno, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:

Kelompok 17 / pengiring (pemandu),
Kelompok 8 / pembawa (inti),
Kelompok 45 / pengawal.

Formasi yang baru tersebut bias di artikan sebagai symbol kebangkitan kemerdekaan Negara kita, Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, marinir, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja.

Pada waktu itu pasukan pengibar bendera pusaka bukanlah di sebut paskibra seperti sekarng ini. Masa rentang waktu antara 1967 sampai tahun 1972 masih “Pasukan Pengerek Bendera Pusaka”. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman mengagaskan ide baru untuk pasukan pengibar bendera pusakan dengan nama Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.

www.atributpramuka.com
penyedia produk perlengkapan paskibra, lencana, pin, nama dada. Name tag, tali komando, map naskah, wing, balok pangkat, envolet, topi latihan, topi laken border, badge bordir

Pencarian Dari Google:

Tulis komentar Anda tentang Sejarah Paskibra


Keranjang Belanja Anda
Jumlah Barang : pcs
  • Msikin
    terimakasih »
  • Msikin
    Harga talikur yg sesuai contoh diatas adalah bahan biasa harga Rp. 40,000, untuk bahan standar TNI harga Rp. 7 »
  • Msikin
    Harga untuk tali kur lengkap 75.000,- silahkan ke hp. 0821 26 2929 84 -Pin 750da10f »
  • Msikin
    Lihat menu cara pemesanan, atau hub CS 0821 26 2929 84 »
  • Msikin
    Harga tali kur paskibra biasa harga 40.000, gantungan variasi (Nestle) harga 25.000,-. untuk cepat respon har »

Pages


Hotline : 0821 2629 2984 SMS Center : 081 802 393 620 BB Messenger : 750DA10F sikin582@yahoo.com